Yaslis Institute

We serve you better. We provide all you need in training, workshop, consultant and research human resource, health, hospital, insurance.

Bincang-Bincang Kesehatan Masyarakat

Jumat, 04 September 2009

Rubrik ini merupakan tempat kita berbagi opini, pengalaman, komentar atau apapun pendapat anda tentang masalah pelayanan kesehatan kita. Mari kita saling sharing untuk menajamkan kompetensi untuk dapat memberikan kontribusi memecahkan solusi pelayanan kesehatan Indonesia

Pengalaman pelayanan rawat inap; Biaya V.I.P, layanan sub-standar

Aku adalah penderita penyakit sinusitis kronis. Selama bertahun–tahun penyakit ini menjadi bagian dari kehidupan aku. Dokter ahli THT mengatakan penyebab penyakit ini adalah adanya faktor alergi aku terhadap debu. Ketika aku mempunyai kesempatan berlajar di Amerika tahun 1985 pernah dilakukan pengobatan untuk membentuk antigen terhadap debu dengan disuntikan cairan yang mengandung debu selama 14 kali. Pengobatan ini sedikit membantu dan lebih membaik ketika aku melakukan jogging 2 hari sekali secara teratur. Kembali ke Indonesia, tahun 1986, kebiasaan jogging terus aku pertahankan. Secara umum kesehatanku sangat baik, yang jadi masalah adalah alergi terhadap debu yang berakibat radang kronik pada sinus. Dengan kondisi fisik yang baik dan umur relatif masih muda masalah ini tidak menimbulkan problem berarti. Masalah ini mulai sangat mengganggu ketika aku telah berumur 47 tahun, walaupun aku tetap jogging secara teratur. Hidungku tetap meler, mampet, dan bersin-bersin terutama pada pagi hari, seterusnya berlanjut radang tenggorakan. Penyakit ini kambuh rata-rata 2 kali dalam sebulan; betul-betul sudah mengganggu kerja sehari-hari sebagai dosen di perguruan tinggi. Dokter ahli THT, kebetulan teman, menganjurkan untuk dilakukan operasi. Dia mengatakan operasi ini aman dan menggunakan teknologi dan alat yang jauh lebih baik sehingga tidak menimbulkan luka yang berarti. Memang, operasi akan mengambil jaringan lunak yang selalu meradang dan mengambil sebagian tulang hidung yang katanya.bengkok. Walaupun demikian, tindakan operasi selalu menimbulkan rasa takut terhadap kemungkinan sakit dan komplikasi. Bagaimanapun juga operasi sinusitis ini memerlukan bius total yang dapat menimbulkan efek samping, Setelah berunding dengan keluarga aku memutuskan untuk menerima saran dokter THT yaitu operasi sinus. Karena aku PNS dengan pangkat golongan IV A, aku dapat dirawat di ruang VIP RS pemerintah di Jakarta, tetapi sekamar harus berdua. Untuk membuat rasa nyaman pada keluarga, aku memutuskan untuk di rawat diruang VIP sendiri; walaupun untuk itu saya harus menambah biaya ruang rawat inap sebesar Rp 250.000,- per hari pada tahun 1998.Dua hari, sebelum di rawat inap aku menjalankan pemeriksaan fisik dan laboratorium lengkap. Dokter ahli penyakit dalam mengatakan bahwa ada pelemakan pada hati saya. Hasil pemeriksaan darah juga terlihat SGOT dan SGPT saya relatif tinggi, kemudian dokter mengusulkan untuk pemeriksaan ulang, hasilnya tetap sama. Dokter mengatakan kondisi umum fisik aku baik dan tetap aman untuk dilakukan operasi, tetapi akan digunakan obat anesthesi yang tidak berefek negatif terhadap fungsi hati. Satu hari sebelum operasi, saya diminta untuk masuk ruang rawat inap pada jam 9.00 pagi hari. Dengan persiapan mental dan pasrah aku masuk rumah sakit dengan membawa sejumlah majalah, buku dan alqur’an sebagai bekal untuk membaca dirumah sakit. Aku diantar oleh istri, kemudian ditinggal sendiri di rumah sakit karena istri harus mengantar anak kesekolah. Dikamar VIP seorang diri, aku habiskan waktu dengan membaca, tidak terasa waktu telah jam 13.00 siang, kemudian aku sholat zuhur. Problem pertama yang aku hadapi adalah kelaparan diruang VIP RS. Pada siang itu perut ku sudah terasa lapar, karena kebiasaan sarapan hanya sekerat roti dan segelas susu. Setelah aku tunggu lebih dari satu jam, tampaknya hari pertama tinggal di ruang VIP tidak dapat makan siang. Aku juga sempat berpikir: “Barangkali tidak ada layanan makan siang untuk pasien pada hari pertama”? Tetapi masa iya sih, aku bayar tambahan untuk kamar ini cukup mahal, ditambah lagi tentunya yang dibayar asuransi kesehatan. Kenyataannya, sampai perutku kelaparan makan siang belum juga nongol. Aku mengambil keputusan untuk makan dikantin RS, kemudian aku berganti pakaian dan berjalan keluar melewati ruang kerja perawat (nurse station). Tiba-tiba seorang perawat menegur ku : “Dok-dok mau kemana? Aku menjawab: Aku lapar ingin mencari makan di kantin. Perlu saya sampaikan saya seorang dokter gigi dan para perawat semua tahu saya karena didaftar pasien tertulis nama dan profesi aku. Mengetahui aku kelaparan, barulah para perawat agak bingung dan meminta maaf terlambatnya bagian gizi mengantar makanan. Tampaknya bagian gizi belum dapat informasi bahwa ada pasien baru di ruang VIP. Ini merupakan persoalan sepele yang dapat diatasi bila saja bagian penerimaan pasien, perawat ruang VIP dan bagian Gizi melakukan koordinasi baik. Terasa cukup lucu, pasien diruang very importan person RS bisa kelaparan, aneh tetapi nyata. Yang lebih lucu, besoknya saya harus operasi dan diperintahkan untuk berpuasa, eeh pagi-pagi diantarkan sarapan pagi. Tetapi lumayan juga untuk dimakan oleh istri yang setia menunggu saya di rumah sakit. Problem kedua terjadi setelah operasi dilakukan dengan sukses. Aku siuman diruang rawat rawat inap kembali dengan tangan dipasang infus dan untuk buang air kecil dipasang kateter. Post –operasi aku tidak merasakan sakit sama sekali hanya kesulitan bernafas karena adanya gumpalan darah pernafasan. Untuk melancarkan pernafasan tersedia alat suction. Aku ajarkan istriku bagaimana menggunakan alat tersebut. Istriku bukanlah perawat, tetapi dengan kesabaran dan rasa kasih dan sayang terhadap suami dia dapat melakukan penyedotan cairan darah yang menyumbat pernafasan dengan baik. Aku katakan : Kamu rasakan dan temukan lokasi cairan dan sedot dengan perlahan-lahan penuh kesabaran. Setelah penyedotan aku kasih tahu untuk membilas slang suction dengan air panas sehingga slang bersihdan tidak tersumbat. Hampir seluruh kebutuhan pribadiku makan, minum, dan buang air besar saya dibantu oleh istriku yang setia merawatku di rumah sakit (terima kasih banget untuk istriku). Setiap malam dia ikhlas aku bangunkan untuk membantu menyedot cairan yang menyumbat hidung sehingga aku tidak dapat bernafas baik. Sebenarnya, sebagai pasien di ruang VIP saya diberikan fasilitas bel untuk memanggil perawat setiap waktu bila dibutuhkan. Telah 3 hari 2 malam istriku berfungsi sebagai perawat sukarela ruang VIP RS. Pada tengah malam ketiga, aku terbangun karena hidung tersumbat dan sulit bernafas. Aku lihat istriku tidur lelap karena kelelahan, aku tidak tega untuk membangunkannya. Untuk kali ini aku mencoba fasilitas bel, yang sebenarnya sarana kemudahan untuk pasien VIP. Saya bel berkali-kali kemudian datanglah seorang perawat, tampaknya masih mengantuk. Perawat ini bertanya: Ada apa dok? Saya menjawab : Tolong suster hidung aku mampet, enggak bisa bernafas. Kemudian suster ini mencari slang, dan menanyakan : Mana pinsetnya ( alat penjepit slang)? Aku menjawab : Dari kemarin juga tidak tersedia pinset. Dengan mimik yang kurang senang dan gerakan jari tangan yang enggan, dia mengambil slang suction dan memasukkan kelobang hidungku. Ketika, dia mengerjakan ini, terasa tidak sabaran dengan selalu mengatakan sudah dok, sudah dok tiada henti. Aku menjadi mangkel, walaupun belum bersih total aku katakan sudah cukup. Aku hanya bertanya dalam hati : Beginikah mutu layanan perawat di ruang VIP? Melayani tanpa hati? Melayani tanpa kasih? Sungguh jauh dari harapan pasien. Suatu hal yang aku sadari bahwa seseorang dapat mengerjakan lebih baik walau tidak punya pengalaman sekalipun bila disertai rasa kasih dan empati. Sangat sulit ditemui di Indonesia, perawat profesional berkerja dengan baik sehingga memberikan kepuasan pasien. Sebagai pasien kita berharap agar dilayani dengan baik. Mestinya, keunggulan yang perlu diperioritaskan oleh RS kita adalah kualitas pelayanan SDM karena ini biaya lebih murah dan mungkin dilakukan. Aku punya kiat, setiap personel rumah sakit seharusnya berkerja dengan falsafah : Melayani.., melayani.., melayani.., apology, happy, dan empathy. Semestinya inilah merupakan mantera atau zikir personel kesehatan yang akan memberikan pelayanan lebih dari yang diharapkan pasien. Dengan kata lain inilah merupakan kunci dasar pelayanan prima di rumah sakit.


Oleh : Dr. Drg. Yaslis Ilyas, MPH

0 komentar:

Poskan Komentar