Yaslis Institute

We serve you better. We provide all you need in training, workshop, consultant and research human resource, health, hospital, insurance.

Masalah Kesehatan Jiwa Sangat Mengkhawatirkan

Jumat, 04 September 2009

1. Masalah Kesehatan Jiwa

Tekanan hidup yang menghimpit dan kegelapan masa depan menyebabkan banyak masyarakat menderita sakit jiwa mulai dari ringan sampai berat. Hal yang paling memilukan hati tingginya angka bunuh diri disertai pembunuhan terhadap anak yang mereka kasihi. Kasus yang sudah semakin prevalen ini perlu menjadi perhatian kita, terutama Pemerintah dan Departemen terkait, untuk ditangani secara seksama agar tidak menjadi semakin memburuk.

Ada sejumlah kasus bunuh diri yang dapat kita ketahui dari mas media. Pada tanggal 22 November 2007 kita dikejutkan berita Reportase Pagi TRANS T.V. tentang jatuhnya seorang mahasiswa, Yhosua Putera Purba, dari lantai 12 gedung Universitas Atmajaya. Setahun yang lalu kejadian serupa terjadi dua orang bunuh diri dengan melompat dari elevator pada suatu mal di Surabaya. Peristiwa bunuh diri dengan modus menjatuhkan diri dari gedung tinggi akan semakin menjadi pilihan orang yang menderita kelainanan jiwa atau stres.

Tragedi yang paling memilukan adalah peristiwa beruntun bunuh diri dan membunuh anak balita yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Pertama, nasib tragis menimpa keluarga Jiyono (32), warga Dukuh Jantir, Boyolali, Jawa Tengah. Istri Jiyono, Mujinem (30), dan anak keduanya, Astiwi (2), ditemukan tewas gantung diri, Rabu (20/7/05) siang. Sebelum gantung diri, Ny Mujinem diduga terlebih dulu membunuh anaknya dengan menjerat memakai tambang plastik. Kedua, Ropingah, 30 tahun, warga Dusun Ngelo, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, nekad bunuh diri dengan cara membakar diri bersama dua anaknya (04 Mei 2007). Ropingah tewas bersama Hasbi Novid, anaknya yang baru berumum 1 tahun. Adapun, anak satunya lagi, Ibnu Rizal, 8 tahun, selamat dengan luka bakar serius.(Tempointeraktif.com) Ketiga, seorang ibu di Bekasi membunuh anaknya, Mutiara Yusuf, 2 tahun; Aldi Rasyid, 4 tahun, dengan menenggelamkan kedalam bak kamar mandi. Kejadian tragis ini terjadi pada tanggal 14 Maret 2008. Terakhir, modus yang sama ditiru oleh seorang ibu di Pekalongan 2 anak balita, Sabila Putri Kaera dan Fadli Muhammad Niizam, meninggal ditenggelamkan di bak mandi pada tanggal 22 Maret 2008. (Kompas, 27 maret 2008)

Data World Health Organization menyampaikan, sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri selama tiga tahun terakhir. Kemiskinan dan himpitan ekonomi menjadi penyebab tingginya jumlah orang yang mengkhiri hidup. A Prayitno mengatakan, faktor penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup. Menurut Prayitno, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Jumlah kematian itu belum termasuk kematian akibat overdosis obat terlarang yang mencapai 50 ribu orang setiap tahun. Prayitno mengungkapkan, dari jumlah tersebut, 41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. (www.vhrmedia.com)

Data Departemen Kesehatan menyebutkan, beberapa daerah memiliki tingkat bunuh diri tinggi, antara lain Provinsi Bali mencapai 115 kasus selama Januari - September 2005 dan 121 kasus selama tahun 2004. Pada 2004 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tercatat 20 kasus bunuh diri dengan korban rata-rata berusia 51-75 tahun. Kasus bunuh diri di Jakarta sepanjang 1995-2004 mencapai 5,8% per 100 ribu penduduk, kebanyakan lelaki. Dari 1.119 orang bunuh diri di ibu kota negara, 41% dengan cara gantung diri, 23% menenggak racun. Selain itu, 256 orang menemui ajal akibat overdosis obat. Tingginya angka bunuh diri di Indonesia mendekati negara pemegang rekor dunia seperti Jepang mencapai lebih dari 30 ribu orang per tahun dan China yang mencapai 250 ribu orang per tahun. (www.vhrmedia.com)

Semua tragedi diatas hanya merupakan ujung gunung es dari permasalahan kesehatan jiwa yang dihadapi oleh seluruh penduduk Indonesia. Krisis ekonomi yang belum mereda telah menimbulkan dampak terjadinya pengangguran dan persaingan yang makin ketat dalam berbagai bidang, baik dalam pekerjaan maupun sekolah. Masyarakat dituntut untuk lebih cepat beradaptasi, namun tidak semua individu dalam masyarakat mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Pada kota-kota besar faktor pemicu penyakit jiwa ditambah lagi dengan carut marutnya lalu lintas dan kerawanan sosial yang tinggi membuat stres dan meningkatnya perilaku agresif penduduk kota. Khusus untuk masyrakat Papua perubabahan socio-politik dan factor ekonomi akan merupakan stressor pemicu kelainan jiwa pada penduduk.

Kondisi demikian sangat rentan terhadap terjadinya stress, anxietas, konflik, depresi, ketergantungan terhadap NAPZA, perilaku seksual menyimpang, serta masalah-masalah psikososial lainnya. Lebih lanjut, Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa memperkirakan 1 dari 4 penduduk Indonesia mengidap penyakit jiwa. Artinya, diperkirakan sekitar 25% penduduk Inonesia diperkirakan mengidap penyakit jiwa dari tingkat paling ringan sampai berat.

2. Apa yang telah dilakukan Pemerintah?

Masalahnya, apakah yang telah dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri, Departemen Kesehatan dan Kementerian Sosial untuk mencegah dan mengurangi masalah kesehatan jiwa masyarakat? Apakah ada program prevensi kesehatan jiwa masyarakat yang dilaksanakan pemerintah? Bagaimana peran Dinas-Dinas terkait Kabuapten/Kota untuk mencegah dan mengurangi masalah kesehatan jiwa masyarakat? Bagaimana peran sosial (keluarga, kerabat dan masyarakat) untuk bersama-sama memerangi penyakit jiwa yang semakin mengkhawatirkan ini?

3. Program Kesehatan Jiwa Berbasis keluarga

Kenapa selama ini kita tidak dapat bertindak untuk mencegah terjadi peristiwa bunuh diri di lingkungan kita? Banyak faktor tentunya yang mempengaruhi ini; ahli sosiologi mengatakan lemahnya daya kohesi sosial dalam masyarakat dan banyak faktor lainnya. Sebagai pengamat kesehatan masyarakat; salah satu sebab adalah tidak cukup pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa itu sendiri. Ditambah lagi, program kesehatan jiwa masyarakat hampir tidak terdengar kiprahnya di masyarakat.

Penderita penyakit jiwa masih terlalu jauh dari jangkauan program kesehatan masyarakat. Seharusnya, program kesehatan masyarakat harus fokus kepada keluarga. Artinya, pemberdayaan masyarakat harus berkerja di tingkat keluarga. Setiap anggota keluarga harus termotivasi untuk mengambil peran dalam mempromosikan perilaku hidup sehat dan dapat mendeteksi, mencegah dan mencari akses pelayanan kesehatan jiwa yang dibutuhkan.

Puskesmas seharusnya berkerja dengan sistem informasi berbasis keluarga sehingga dapat diketahui kondisi kesehatan setiap keluarga. Dengan demikian, setiap Puskesmas dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan berdasarkan masalah kesehatan keluarga pada daerah kerjanya.

Personel Puskesmas harus mempunyai kompetensi untuk melakukan penyuluhan, promosi dan pengobatan penyakit jiwa yang tidak membutuhkan rawat inap di rumah sakit. Sebagian besar masalah kesehatan jiwa seharusnya dapat ditangani di tingkat Puskesmas. Perlunya pelatihan personil Puskesmas untuk menjalankan Program Kesehatan Jiwa Keluarga sudah seharusnya menjadi perioritas Departemen Kesehatan dan Kementerian Sosial, Republik Indonesia. Apakah pejabat kita memikirkan masalah ini? Wallahu Alam…


Oleh : Dr. drg. Yaslis Ilyas, MPH

0 komentar:

Poskan Komentar